Pages - Menu

Kamis, 10 Mei 2012

HUKUM BERBOHONG DALAM ISLAM



Berbohong secara tegas hukumnya haram berdasarkan nash Al-Qur’an yang qoth’i. Dan keharamanya termasuk persoalan-persoalan agama yang diketahui secara pasti. Tidak ada perbedaan antara berbohong demi kemaslahatan umat Islam, agama atau karena yang lain. Banyak nash menyatakan keharamannya secara umum, mutlak dan pasti serta tidak disertai illat. Allah berfirman;
إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
"Sesungguhnya yang mengada-ada kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah" (Q.S. Al-Nahl: 105), dan ayat
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah[1] kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta(Q.S. Al-Imron: 61).
Larangan keras, mutlak dan umum ini tidak mempunyai ‘illat[2], dibatasi dan ditakhsis (dikhususkan) kecuali oleh nash yang lain. Peranan akal hanya untuk memahami nash, dan tidak lebih dari itu. Dan tak ditemukan nash yang menunjukkan penta’lilan atau pentaqyidan (pembatasan), baik dalam al-Qur’an maupun Hadits. Tetapi terdapat nash lain yang mentakhsis nash diatas...

HASIL DARI BERSABAR

”Yaitu, orang-orang yang ketika ditimpa kesusahan (musibah), mereka itu berkata : sesungguhnya kami ini adalah mikil Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali. Merekalah orang-orang yang mendapat karunia, kehormatan dan rahmat dari Tuhan dan merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah.” (QS Al-Baqarah: 157)
Uraian akhir ayat diatas menjelaskan tiga macam sukses atau hasil yang akan diperoleh orang-orang yang sabar. Yang tiga macam itu ialah:
(1) Shalawat. Artinya = karunia.
Menurut Sayid Rasyid Ridha, yang dimaksud dengan shalawat itu ialah bermacam-macam kemuliaan, kehormatan, ketinggian, baik pada sisi Tuhan maupun pada sisi manusia. Ibnu-Abbas mengatakan, bahwa dalam pengertian shalawat itu termasuk juga ampunan Ilahi. (Tafsir Al-Manar: j. II hal. 41).

(2) Rahmat. Artinya = kasih sayang Tuhan.
Mengenai Rahmat itu, disebutkan dalam Al-Quran :
”Rahmat-Ku (Tuhan) meliputi semua hal”. (Al-A’raf : 156).

Rahmat Tuhan itu meliputi segala bidang kehidupan, bertemu dalam setiap keadaan dan situasi. Dalam kehidupan, baik kehidupan sebagai pribadi maupun sebagai ummat atau bangsa, kerapkali manusia mendapat rahmat. Kadang-kadang seseorang umpamanya sudah putus asa terhadap sesuatu hal.
Segala usaha telah dijalankan. Menurut perhitungan yang normal, usaha itu tidak akan berhasil lagi. Tapi, pada saat-saat yang terakhir Tuhan memberikan rahmat-Nya...

BERSABARLAH DALAM BERJUANG


Jalan itu masih panjang, masih banyak titian yang harus kau lewati, masih terjal jurang yang harus kau lalui, masih tinggi gunung yang harus kau daki. tetapi, sepanjang apapun jalanmu, ingatlah kau harus bisa melewatinya sebaik yang kau mampu. karena waktu takkan biarkan kau sekedar mengukurnya lagi, apalagi kembali perbaiki.


Inilah duniamu, datang untuk menguji keimananmu. dia datang, sekadar menyapa, bukan kata 'hai' atau 'apa kabar ?' yang diucapkannya, tetapi dia menyapamu dengan selaksa ujian dan cobaan. datang untuk bertanya, seberapakah iman hamba Allah yang satu ini ? berprasangka baiklah terhadap sapa dan tanyanya. ini adalah salah satu...

Selasa, 08 Mei 2012

SUBHANALLAH... 60 TAHUN TIDAK PERNAH MASBUK.


Sudah jelas dia tidak bisa melilhat. Dia buta. Rumahnya jauh dari mesjid. Sementara tak ada yang bisa menuntunnya. Jalanan Madinah kadang tidak aman karena banyak ular dan binatang lainnya yang berkeliaran. Maka Ibnu Ummi Maktum pun meminta izin kepada Rasulullah agar diberikan keringanan untuk shalat lima waktu di rumah saja. Awalnya Rasulullah mengizinkan. Tapi sejurus kemudian beliau bertanya: “Apakah kamu mendengar azan?”
“Iya, Rasulullah, saya mendengarnya” jawabnya.
“Kalau begitu tidak ada keringanan bagimu” tegas Rasulullah
Di saat lain, ada orang buta yang lain datang kepada Rasulullah mengadukan keadaan serupa. Rasulullah hanya bertanya, “Apakah kamu mendengar azan?”
“Iya, saya mendengarnya, wahai Rasul”
“Kalau begitu sambutlah seruan itu”
Berdasarkan dari dua hadits itu, yang didukung oleh...

Senin, 07 Mei 2012

TENANGNYA JIWA YANG ISLAMI


Dalam perkembangan hidupnya manusia seringkali berhadapan dgn berbagai masalah yg berat utk diatasinya. Akibatnya timbullah kecemasan ketakutan dan ketidaktenangan bahkan tidak sedikit manusia yg akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yg semula dianggap tidak mungkin dilakukannya baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Oleh krn itu ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yg terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya tiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yg tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yg dikehendaki Allah dan rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa banyak orang yg mencapainya dgn cara-cara yg tidak islami sehingga bukan ketengan jiwa yg didapat te tapi malah membawa kesemrawutan dalam jiwanya itu. Untuk itu secara tersurat Alquran menyebutkan beberapa kiat praktis. 1. Dzikrullah Dzikir kepada Allah SWT merupakan kiat utk menggapai ketenangan jiwa yakni dzikir…dalam arti selalu ingat kepada Allah dgn menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam berbagai kesempatan. Bila seseorang menyebut nama Allah memang ketenangan jiwa akan diperolehnya. Ketika berada dalam ketakutan lalu berdzikir dalam bentuk menyebut ta’awudz dia menjadi tenang. Ketika berbuat dosa lalu berdzikir dalam bentuk menyebut kalimat istighfar atau taubat dia menjadi tenang kembali krn merasa telah diampuni dosa-dosanya itu. Ketika mendapatkan keni’matan yg berlimpah lalu dia berdzikir dgn menyebut hamdalah maka dia akan meraih ketenangan krn dapat memanfaatkannya dgn baik dan begitulah seterusnya sehingga dgn dzikir ketenangan jiwa akan diperoleh seorang muslim. Allah SWT berfirman yg artinya ” orang-orang yg beriman dan hati mereka menjadi tentram dgn mengingat Allah. Ingatlah hanya dgn mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”. Untuk mencapai ketenangan jiwa dzikir tidak hanya dilakukan dalam bentuk menyebut nama Allah tetapi juga dzikir dgn hati dan perbuatan. Karena itu seorang mukmin selalu berdzikir kepada Allah dalam berbagai kesempatan baik duduk berdiri maupun berbaring. 2. Yakin akan Pertolongan Allah Dalam hidup dan perjuangan seringkali banyak kendala tantangan dan hambatan yg harus dihadapi. Adanya hal-hal itu seringkali membuat manusia menjadi tidak tenang yg membawa pada perasaan takut yg selalu menghantuinya. Ketidaktenangan seperti ini seringkali membuat orang yg menjalani kehidupan menjadi berputus asa dan bagi yg berjuang menjadi takluk bahkan berkhianat.Oleh krn itu agar hati tetap tenang dalam perjuangan menegakkan agama Allah dan dalam menjalani kehidupan yg sesulit apa pun seorang muslim harus yakin dgn adanya pertolongan Allah dan dia juga harus yakin bahwa pertolongan Allah itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yg terdahulu tetapi juga utk orang sekarang dan pada masa mendatang Allah berfirman yg artinya “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi mu dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” . Dengan memperhatikan betapa banyak bentuk pertolongan yg diberikan Allah kepada para nabi dan generasi sahabat di masa Rasulullah saw maka sekarang pun kita harus yakin akan kemungkinan memperoleh pertolongan Allah itu dan ini membuat kita menjadi tenang dalam hidup ini. Namun harus kita ingat bahwa pertolongan Allah itu seringkali baru datang apabila seorang muslim telah mencapai kesulitan yg sangat atau dipuncak kesulitan sehingga kalau diumpamakan seperti jalan maka jalan itu sudah buntu dan mentok. Dengan keyakinan seperti ini seorang muslim tidak akan pernah cemas dalam menghadapi kesulitan krn memang pada hakikatnya pertolongan Allah itu dekat. Allah berfirman yg artinya “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yg beriman “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” . 3. Memperhatikan Bukti Kekuasaan Allah Kecemasan dan ketidaktenangan jiwa adl krn manusia seringkali terlalu merasa yakin dgn kemampuan dirinya akibatnya kalau ternyata dia merasakan kelemahan pada dirinya dia menjadi takut dan tidak tenang tetapi kalau dia selalu memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah dia akan menjadi yakin sehingga membuat hatinya menjadi tentram hal ini krn dia sadari akan besarnya kekuasaan Allah yg tidak perlu dicemasi tetapi malah utk dikagumi. Allah berfirman yg artinya “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata ‘Ya Tuhanku perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati’. Allah berfirman ‘Belum yakinkah kamu?’. Ibrahim menjawab ‘Aku telah meyakininya akan tetapi agar hatiku tenang ‘. Allah berfirman ‘ ambillah empat ekor burung lalu cincanglah kemudian letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu satu bagian dari bagian-bagian itu kemudian panggillah mereka niscaya mereka datang kepadamu dgn segera’. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” . 4. Bersyukur Allah SWT memberikan keni’matan kepada kita dalam jumlah yg amat banyak. Keni’matan itu harus kita syukuri krn dgn bersyukur kepada Allah akan membuat hati menjadi tenang hal ini krn dgn bersyukur keni’matan itu akan bertambah banyak baik banyak dari segi jumlah ataupun minimal terasa banyaknya. Tetapi kalau tidak bersyukur keni’matan yg Allah berikan itu kita anggap sebagai sesuatu yg tidak ada artinya dan meskipun jumlahnya banyak kita merasakan sebagai sesuatu yg sedikit. Apabila manusia tidak bersyukur Allah memberikan azab yg membuat mereka menjadi tidak tenang Allah berfirman yg artinya “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yg dahulunya aman lagi tentram rezekinya melimpah ruah dari segenap tempat tetapi nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah; krn itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yg selalu mereka perbuat.” . 5. Tilawah Tasmi’ dan Tadabbur Alquran Alquran adl kitab yg berisi sebaik-baik perkataan diturunkan pada bulan suci Ramadan yg penuh dgn keberkahan karenanya orang yg membaca mendengar bacaan dan mengkaji ayat-ayat suci Alquran niscaya menjadi tenang hatinya manakala dia betul-betul beriman kepada Allah SWT. Allah berfirman yg artinya “Allah telah menurunkan perkataan yg baik Alquran yg serupa lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yg takut kepada Tuhanya kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah dgn kitab itu Dia menunjuki siapa yg dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yg disesatkan Allah maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” . Oleh krn itu sebagai mukmin interaksi kita dgn Alquran haruslah sebaik mungkin baik dalam bentuk membaca mendengar bacaan mengkaji maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Manakala interaksi kita terhadap Alquran sudah baik maka mendengar bacaan Alquran saja sudah membuat keimanan kita bertambah kuat yg berarti lbh dari sekedar ketenangan jiwa. Allah berfirman yg artinya “Sesungguhnya orang-orang yg beriman adl mereka yg apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” . Dengan berbekal jiwa yg tenang itulah seorang muslim akan mampu menjalani kehidupannya secara baik sebab baik dan tidak sesuatu yg seringkali berpangkal dari persoalan mental atau jiwa. Karena itu Allah SWT memanggil orang yg jiwanya tenang utk masuk ke dalam surga-Nya. Allah berfirman yg artinya “Hai jiwa yg tenang kembalilah kepada Tuhanmu dgn hati yg puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”. Akhirnya menjadi tanggung jawab kita bersama utk memantapkan ketenangan dalam jiwa kita masing-masing sehingga kehidupan ini dapat kita jalani dgn sebaik-baiknya. Oleh Drs. H. Ahmad Yani Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

ANTARA NIAT DAN IKHTIAR


Bunyi alarm dari ponsel telah memotong salah satu episode mimpiku.Pukul 3 dini hari..Meski terkadang begitu sulit melawan kantuk.Selalu kuusahakan untuk berkhalwat dengan kekasihku.Menitip doa untuk orang-orang terkasih, memohon pengampunan dosa, dan meminta banyak hal yang aku inginkan.Karena hanya Dia yang bisa mengabulkan.

Setelah aku matikan alarm, iseng-iseng aku buka messenger dari ponselku.Mungkin ada pesan offline dari teman-teman.Eh ada seorang teman yang online pagi-pagi buta begini.Kuucapakan salam, kemudian aku bilang tunggu aku dua rekaat dan akan kembali.

Setelah sekian menit bermunajat.Ku kembali menyapanya.Dia hanya seorang teman cyber yang telah aku kenal sejak tahun 2003.Namun baru kira-kira setengah tahun terakhir kami berhubungan kembali setelah 2 tahun lost contact.Dia seperti sebuah jendela yang menghubungkanku dengan dunia yang baru.Bidang broadcast yang digelutinya juga pengetahuannya tentang agama yang cukup luas dan dalam.Membuatku tak pernah bosan untuk ‘menggangunya’ dengan rasa ingin tahuku tentang ilmu yang dia kuasai, juga pemikiran-pemikirannya.

Ternyata dia sedang chat dengan temannya yang mengambil suaka di luar negeri.Sambil menunggu untuk memberikan siraman rohani subuh di stasiun radio miliknya di tanah rencong.Juga chat dengan seseorang yang dia anggap istimewa namun telah menjadi milik orang lain.Pembicaraan kami kemudian berkisar tentang orang istimewa tersebut.Aku menanyakan hikmah apa yang bisa dia petik dari ‘kehilangan orang istimewa’ itu?Dia menjawab sambil sedikit bergurau menyebutkan salah satu hadist yang menyangkut kehidupan masa lalunya yang sedikit kelam.Aku hibur dia dengan jawaban yang logis, bahwa mungkin dia juga akan mendapatkan seseorang seperti dirinya, yaitu memiliki masa lalu yang kelam namun telah bertransform ke jalan yang benar.

Dengan halus dia menolak pendapatku.Dia berkata, bahwa dia akan memperbaiki amalannya, akan lebih beryukur, dan memperbanyak ibadah, sehingga Allah akan berkenan mengabulkan keinginannya.
‘Apa kamu yakin kalau kamu melakukan semua itu, Allah akan kabulkan permohonanmu?’
‘Iya’
‘Bagaimana bila tetap tak dikabulkan, dan di mana peran takdir bila keyakinanmu sebulat itu?’
Dia tetap berpegang teguh dengan pendiriannya.Takdir baginya memang telah ditentukan namun dia mengharap belas kasihan Allah dengan melihat usaha maksimalnya.Bila niat dan ikhtiar sejalan maka hasilpun akan seperti yang diharapkan.Aku tersenyum dan hanya mendoakan semoga keinginannya terkabul.

Dulu pernah dia buktikan kata-katanya ini.Stasiun radionya pernah mengalami krisis, sehingga tidak bisa mengudara.Kendala finance itu dia ceritakan padaku, aku usulkan beberapa solusi.Dia jawab sudah coba namun tak ada hasil.Kami berdua sudah buntu tentang jalan keluar, hingga kemudian aku sarankan’Minta saja pada Allah yang Maha Kaya, dengan bahasa yang halus dan indah, tulus ikhlas, pasti dikabulkan’.

Tak kudengar kabarnya beberapa waktu.Hingga pada suatu hari dia menyapaku.Aku tanyakan ke mana saja, ponselpun tak bisa dihubungi.Ternyata miliknya yang bisa diuangkan telah dijual semua termasuk ponsel.Apapun akan dia lakukan, asal radionya yang 75 persen siaran Islam bisa mengudara kembali.Usahanya yang maksimal untuk survive, telah membuahkan hasil.Radionya bisa mengudara kembali setelah hampir seminggu vakum.

Alhamdulillah keadaannya terus membaik.Kesibukannya bertambah dan lancar saja.Meski kami telah jarang bersapa karena pekerjaannya yang menumpuk, tapi masih menanyakan kabar masing-masing.

Kurenungkan kata-katanya.Antara niat, ikhtiar dan hasil.Dalam keputusasaan, akan timbul keikhlasan, karena telah hilangnya kesombongan pada kemampuan sendiri dan hanya mengharap uluran tangan Allah.Ketika semua pintu tertutup dan hanya pintu Allah yang terbuka lebar.Tak ada jalan lain yang ditempuh selain jalanNya yang berupa ikhtiar dan do’a.Mungkin benar bila Allah akan mengabulkan, bukankah Allah Maha Pengasih, Penyayang, Pemurah.

Dalam kehidupan sehari-haripun telah banyak contoh yang nyata.Bila kita bercita-cita ingin menjadi dokter, yang merupakan sebuah niat.Kemudian belajar dengan sungguh-sungguh, wujud dari ikhtiar.Insya Allah gelar dokterpun akan kita raih, sebuah hasil yang kita inginkan.Kemungkinan yang akan terjadi pun akan bisa diprediksi bila salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi.Misalnya kita bercita-cita ingin menjadi dokter, namun tak ada ikhtiar untuk belajar.Gelar dokter pun hanyalah impian belaka.

Takdir.Hidup, mati dan rejeki, memang hanyalah Allah semata yang tahu.Namun sebagai mahkluk yang diberi kelebihan akal oleh Allah, kita bisa memprediksi apa yang ingin kita raih, yang ingin kita dapatkan, dan di mana kita berada.Tanpa menyimpang dari ajaran dan petunjukNya.

Wallahu’alamu bishawab

SUMBER:
http://kesuciandiri.wordpress.com/

BERANI HIDUP, ATAU BERANI MATI?



Hidup adalah medan laga. Berlaga dan berjuang menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, hingga sampai titik kesudahan (akhir usia). Dalam hidup, tak pernah orang tak menghadapi masalah dan problema, sekecil apapun itu. Pertanyaannya, apakah kita sanggup dan berani menghadapi, atau justru lari? Berani, berarti siap dengan segala kemungkinan baik dan buruk. Berani adalah langkah awal menggapai sukses. Tapi lari? Apakah dengan lari lantas masalah usai? Tidak, justru akan menambah masalah, karena seorang pelarian atau buron pasti menemui banyak masalah. Jelasnya, pecundang tak kan pernah meraih sukses. Lantas, apa bekal utama untuk berani menjalani hidup selayaknya? Jawabannya: keyakinan, ikhtiar, dan tawakal.
Keyakinan. Keyakinan tak bisa lepas dari etos kejuangan dalam upaya meraih sukes. Ketika yakin terhadap sesuatu bahwa itu dapat diraih, kemungkinan besar itu akan menjadi kenyataan. Tapi, jika tidak yakin, maka sesuatu itu akan benar-benar menjauh dari kita. Jadi, keyakinan sungguh amat penting dalam menjalani hidup sebagai peneguh jati diri dalam berusaha. Apa yang menyebabkan kita tak yakin terhadap apa yang akan kita lakukan? Alias ragu. Keraguan muncul manakala tidak memiliki keteguhan hati atau prinsip. Dalam menyikapi persoalan, orang yang berprinsip akan berbeda dengan orang yang tidak berprinsip. Orang berprinsip yang berarti juga berkeyakinan, akan menghadapi persoalan dengan tenang dan mantap. Sebaliknya dengan orang yang tak berprinsip, akan penuh keraguan dan kebimbangan hingga menyebabkan ketakseimbangan. Ketakseimbangan menjadi-kannya limbung, oleng, dan terhuyung-huyung. Jadi, keyakinan adalah modal amat penting dalam melakukan sesuatu yang kita inginkan. Yakinlah bahwa Anda akan berhasil, maka Anda benar-benar berhasil.
Ikhtiar. Hidup selalu bergerak, progesif, dinamis. Diam tak bergerak, statis, sama dengan nafiri kematian. Hidup adalah proses. Sebuah proses yang mau tidak mau harus dijalani oleh semua yang hidup di dunia ini. Dunia ini adalah lahan tempat berproses. Mengapa perlu proses? Berproses berarti bergerak. Bergerak berarti pula ikhtiar, jadi ikhtiar tanpa gerakan sama juga bohong. Dalam hidup ini kita tak tahu apakah akan gagal atau sukses. Itu hak prerogratif Tuhan. Ikhtiar manusia sangat menentukan apakah dalam hidup ini akan sukses atau gagal. Tuhan pun tak tinggal diam, Tuhan berjanji akan memberi pada manusia sesuai dengan yang diusakannya. Manusia wajib berusaha, berikhtiar, soal hasil ada yang mengatur. Dalam ikhtiar terkandung hal yang sangat penting yang menentukan hitam-putihnya ikhtiar kita, yakni: niat atau objective. Niat, yang merupakan dasar segala kebaikan dan keburukan dalam pekerjaan, adalah penentu bagi nilai kejati-dirian seseorang dalam berusaha. Artinya, berusaha dengan niat baik akan menghasilkan dan mendatangkan kebaikan. Demikian pun, niat buruk akan menghasilkan keburukan. Apakah yang kita usahakan akan mendatangkan kebaikan atau keburukan? Sangat bergantung pada apa yang ingin kita peroleh dalam hidup ini. Jadi, dalam berikhtiar, jangan lupa niatnya,objective-nya.
Tawakal. Al-kisah, seorang meninggalkan kendaraan bermotor-nya di halaman rumah tanpa menguncinya terlebih dahulu. Beberapa lama kemudian ia kembali untuk menaikinya, ternyata motornya telah lenyap dari peraduan. Sontak ia berteriak, motorku…mana…motorku lihang..eh hilang! Sembari celingak-celinguk, ia mencari kesana-kemari, ia yakin meletakkan motornya di halaman. Seorang teman bertanya. “kok bisa hilang, memang tak kamu kunci.” “Tidak perlu, aku sudah menyerahkan sama Allah, aku yakin Dia akan menjaga motorku, aku tawakal sepenuhnya, ”jawabnya. “Itusih bukan tawakal bung! Kunci dulu motormu, bila perlu digembok, dirantai, baru berserah sama Allah, lha wong motor dikunci aja bisa hilang,” sanggah sang temansewot. Janganlah menyalah-artikan tawakal untuk menutupi ketidakseriusan ikhtiar. Semangat kisah diatas adalah ingin menunjukkan, bahwa tawakal yang benar adalah tatkala kita telah berusaha secara maksimal, bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap potensi, baru kemu-dian berserah diri apapun yang akan terjadi. Ya Allah, aku sudah berusaha maksimal, kupasrahkan semua pada-Mu. Maka, yang akan terjadi terjadilah.
Akhirnya, apapun usahanya dan dimanapun skalanya—etos kejuangan dalam kiprah kehidupan berusahanya adalah: keyakinan, Ikhtiar, Tawakal, & Sukses.
sumber:
http://kesuciandiri.wordpress.com/

Sabtu, 05 Mei 2012

KETENANGAN JIWA YANG ISLAMI


Dalam perkembangan hidupnya manusia seringkali berhadapan dgn berbagai masalah yg berat utk diatasinya. Akibatnya timbullah kecemasan ketakutan dan ketidaktenangan bahkan tidak sedikit manusia yg akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yg semula dianggap tidak mungkin dilakukannya baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan obat-obat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Oleh krn itu ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yg terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya tiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yg tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yg dikehendaki Allah dan rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa banyak orang yg mencapainya dgn cara-cara yg tidak islami sehingga bukan ketengan jiwa yg didapat te tapi malah membawa kesemrawutan dalam jiwanya itu. Untuk itu secara tersurat Alquran menyebutkan beberapa kiat praktis. 1. Dzikrullah Dzikir kepada Allah SWT merupakan kiat utk menggapai ketenangan jiwa yakni dzikir...

PENGOBATAN NABI SAW


1.     A.   KONSEP & PRINSIP PENGOBATAN NABI
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Swt. Rabb penguasa dan penggengam alam semseta. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada manusia agung, uswatun hasanah, pemberi contoh aplikasi wahyu Allah dalam segala aspek kehidupan, Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw. adalah suri tauladan terbaik bagi kita umat islam (QS.33:21). Suri tauladan tersebut mencakup semua aspek kehidupan kita, termasuk dalam memelihara kesehatan atau berobat dan mengobati orang sakit. Allah Swt berfirman :“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.33:21).
Jika Allah telah menjamin bahwa rasulullah adalah teladan sempurna hal itu berarti semua amalan beliau adalah membawa keselamatan, kebaikan dan ridlo Allah Swt.amalan beliau tersebut tidak terbatas pada maslah-masalah ibadah maghdhoh saja tetapi mencakup semua aspek kehidupan termasuk juga kesehatan. Hal itu dikarenakan semua perkataan beliau adalah wahyu Allah Swt yang menciptakan alam semsesta dan memegang rahasianya (QS.21:45 ; 53:4).
Salah satu contoh di antara sekian banyak hikmah dari amalan beliau di bidang kesehatan adalah perintah beliau dalam hal makanan. Beliau saw apabila makan senantiasa mengunyah makanan selembut mungkin. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa beliau memerintahkan sahabatnya

KESEHATAN NABI MUHAMMAD SAW


Banyak riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW hanya pernah 2 kali sakit sepanjang 63 tahun hidupnya. Padahal saat itu, kondisi alam jazirah Arab sangat keras, ditambah lagi dengan aktivitas dakwah beliau yang sangat tinggi, dan banyaknya peperangan fisik yang dijalani. Daya tahan fisik dan mental beliau luar biasa. Ingin tahu apa tips beliau agar tetap sehat dan bugar. Berikut adalah tips dan hikmah penjelasannya:
Selektif terhadap makanan. Simak Cara Makan Rasulullah SAW. Makanan tersebut harus memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya, sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi.
Konsisten dan selektif pada minuman dan cara meminumnya. Simak Cara Minum Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sangat menyukai madu yang dicampur dengan air. Simak hikmah madu
Makan dengan tenang, tumaninah (konsentrasi & tertib), tidak tergesa-gesa, dan dalam tempo sedang. Secara ilmiah pun hal ini sudah dibuktikan, simak hikmah makan dengan tenang
Cepat tidur dan cepat bangun. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Simak hikmah tidur dibawah 8 jam
Tidurlah dengan cara yang benar. Simak Cara Tidur Rasulullah SAW dan hikmah tidur berbaring miring
Konsisten melakukan shaum sunnah. Beberapa shaum sunnah yang beliau anjurkan diantaranya adalah shaum Senin Kamis, ayyamul bith, shaum Daud, shaum enam hari di bulan Syawal, dsb. Secara ilmiah, shaum juga terbukti sangat bermanfaat. Simak hikmah shaum
Selain tips fisik di atas, Rasulullah SAW juga sangat mantap dalam ibadah ritualnya, khususnya sholat, sehingga beliau pun memiliki keterampilan yang tinggi dalam mengelola emosi, pikiran dan hati. Penelitian-penelitian terkini dalam bidang kesehatan membuktikan bahwa kemampuan dalam mengelola hati, pikiran dan perasaan, serta ketersambungan yang intens dengan Allah SWT akan menentukan kualitas kesehatan seseorang, jasmani maupun rohani.
Bagi para pembaca yang ingin mendalami lebih jauh, bisa membaca buku Jejak Sejarah Kedokteran Islam, karya Dr Jafar Khadem Yamani yang mengungkapkan lebih dari 25 pola hidup Rasul berkait masalah kesehatan, sebagian besar bersifat pencegahan. Di antaranya cara bersuci (seperti berwudhu, mandi wajib, mandi sunnah), cara memanjakan mata, keutamaan berkhitan, keutamaan senyum, dsb.
Ingatlah selalu bahwa mencegah sakit selalu lebih baik daripada mengobati penyakit, dan menjaga diri tetap sehat lebih baik dari sekedar mencegah sakit:-)

SUMBER:
http://cara-muhammad.com/perilaku/cara-hidup-sehat-rasulullah-saw/

Kamis, 03 Mei 2012

MUNAJAT DO'A

Ya Allah..Yang Maha Melihat,Mendengar dan Mengetahui. ketika ia adalah bidadari yang ENGKAU gariskan menjadi belahan jiwaku,Maka dekatkanlah kami,ijinkanlah kami menyempurnakan dien kami,perkenankan kami mengikuti sunnah Rosul-MU,perbolehkan kami menjadi sebuah keluarga yang sakinah,mawaddah,warohmah yang selalu diliputi keromantisan dan keharmonisan yang selalu saling mencintai,menyayangi dan meridu hingga usia menjelang senja,hingga ajal jua yang memisahkan.. ketika ia adalah bidadari yang ENGKAU takdirkan menjadi pendamping hidupku,Maka mudahkanlah jalan kami,menjadi sepasang suami-istri yang selalu dapat berbagi suka dan duka,selalu berbagi canda,tawa,dan air mata,bisa saling mengerti,memahami dan menerima kekurangan masing-masing dapat menemukan dan mensyukuri kelebihan masing-masing.. ketika ia adalah bidadari yang telah ENGKAU pilihkan untukku,Yang mana ia barokah tuk dunia dan akheratku,berilah kami kepercayaan menjadi sepasang ayah-bunda dari putra-putri yang sholeh dan sholehah dari putra-putri yang faham agama dari putra-putri yang sehat,cerdas dan berbakti.. ketika ia adalah bidadari yang ENGKAU jodohkan denganku,Maka jadikan ia bagian dari tulang rusukku yang dekat dengan lenganku,tuk kujaga dan kulidungi,yang dekat dengan hatiku,tuk ku cintai dan sayangi sepenuh jiwa.. ketika ia adalah bidadari yang ENGKAU persiapkan untukku,sejak sebelum langit-bumi diciptakan,Maka jadikanlah ia Hawa terbaik untukku,jadikanlah ia Shinta terindah untukku dan jadikanlah aku Adam terbaik untuknya meskipun aku tak seindah Rama.. Ya Allah..Hanya pada-Mu Hamba bersujud dan memohon dalam setiap sholat wajibku di lima waktu,dalam setiap do’a malamku di pagi buta karena hanya pada-MU,hidup,mati,rizki dan jodohku berada…Aamiin ya Rabbal’alamin..

KETEGASAN SIKAP RASULULLAH

Sepenggal kisah yang terurai berikut menyadarkan saya bagaimana dahsyatnya virus KEMISKINAN menyerang umat muslim zaman ini. Sebuah cerita yang mungkin sudah biasa kita dengar atau menjadi bahasan di berbagai tajuk surat kabar. Seorang bapak-bapak, sebut saja Pak Tejo, mulai berkisah tentang masa remajanya ditemani panasnya cuaca bercampur semilir angin dari kipas angin yang terpasang di salah satu sudut ruangan ketika itu. Dialog itu pun mengalir begitu saja dalam pertemuan kami yang sudah direncanakan Allah. (saat sedang membaca koran) A : Jaman sekarang orang semakin gak takut dosa ya Pak. Mau jadi PNS aja musti bayar ratusan juta, katanya untuk administrasi. Apa itu.. Administrasi kok sampe 100 juta. Pak Tejo : Iya mbak, itulah dunia. Wong dulu bos saya sebelum pensiun juga nawarin saya kok. Katanya saya sudah pantes jadi atasan karena sudah kerja bertahun-tahun. Saya sudah ngerti mbak maksudnya. Dia itu nawarin saya, kalau mau bayar sekian ratus juta, saya bisa jadi pimpinan disini. Ya gitu mbak, dimana-mana sekarang kalau gak pake uang, jangan harap bisa hidup enak… A : lha tapi pak, di dunia hidup enak, tapi nanti di akhiratnya disiksa gimana.. Pak Tejo : hahaha.. mbak..mbak.. sekarang kalau orang udah kepepet gimana mbak?? Saya inget waktu saya masih kecil, dari SD saya tidak pernah yang namanya sekolah dibiayani orang tua. Saya mau sekolah ya cari uang sendiri. Sudah gitu, bapak saya masih mintai saya uang buat adek2 saya. Saya kan anak pertama, adek saya ada 5. Bayangkan mbak, saya masih SMP di Semarang, sekolah sambil bertahan hidup dan masih dijaluki duwit. Waktu itu yo saya gak mikir panjang mbak. Segala macem kerjaan saya lakoni, yang penting dapet uang. Kalau cuma jualan koran aja uange gak cukup lho mbak. Yang namanya sel penjara itu saya sudah gak asing mbak. A : Tapi kan masih ada kerjaan lain yang lebih halal pak? Pak Tejo : Lha saya kan kepepet. Saya waktu itu kepengen banget bisa sekolah tapi bapak saya bukannya mbiayai, dukung, malah anaknya dirampokin terus. Kalau saya gak dapet uang, saya malah habis mbak. Makanya sekarang saya ini seakan-akan gak takut sama siapa-siapa. Kadang sholate males itu yo masih sisa-sisa tabiat saya dulu mbak. A : (diam tanpa kata) HARTA, itulah fitnah dunia yang sangat sering berhasil mengecoh manusia. Parahnya, kaum muslim yang sudah mendapat contoh dari sang Teladan, Nabi Muhammad pun, masih bisa kalah oleh fitnah ini. Cerita di atas masih sangat mengena dalam pikiran. Betapa dunia saat ini sudah sangat parah. Kembali teringat pula ketika mengikuti tes tertulis di sebuah perusahaan. Kami diminta untuk mendiskusikan prioritas permasalahan Indonesia yg sebaiknya diselesaikan dulu. Ada masalah kebodohan, kemiskinan, korupsi, politik, terorisme, dll (ada 20 masalah). Saat itu kelompok kami memilih kebodohan sebagai masalah yg harus diselesaikan pertama kali. Namun sekarang diri ini kembali berfikir. Orang pinter, tapi akhlaknya buruk, tetap saja tidak akan menyelesaikan masalah kemiskinan, tp justru menimbulkan masalah lain spt korupsi, kriminalitas, politik, dsb. Sayang ketika itu akhlak tidak ada dalam list pemasalahan di Indonesia. Permasalahan harta menjadi semacam lingkaran setan yang tidak berujung. Dibidang apapun kita berada, pelanggaran hak dan egoisme pribadi untuk mendapat uang lebih banyak selalu saja terjadi. Padahal, apa yang diajarkan Rasulullah sangatlah jauh dari semua itu. Benarkah? Memang bagaimana Rasulullah mengajarkan?? Sudah selayaknya, kita sebagai umat Islam bersyukur karena Allah telah menurunkan seorang teladan yang sangat baik hingga tidak ada dosa dalam dirinya. Seorang teladan dari kalangan manusia. Memiliki unsur yang sama, jasad, ruh, dan akal. Apalagi yang masih membuat kita ragu untuk meniru beliau?? Beberapa LSM mencoba menjelaskan beberapa alasan kenapa masih banyak anak-anak jalanan yang mengamen dan mengemis padahal seharusnya mereka bisa melakukan hal yang jauh lebih bermanfaat. Dua alasan utama adalah karena mereka menganggap mengamen, mengemis, bahkan mencuri bisa mendatangkan uang bagi mereka daripada harus pusing belajar. Kalau dapat uang, bisa makan enak, beli baju bagus, dan lain sebagainya. Alasan lainnya adalah karena kondisi keluarga yang sama sekali tidak mendukung mereka untuk meraih pendidikan, atau melakukan pekerjaan lain yg lebih baik, meski hasilnya kecil. Selalu saja maslah uang yang menjadi ujung pangkalnya. Mari kita lihat bagaimana kondisi Rasulullah dan keluarganya. Ibnu Sabiq pernah merinci sifat zuhud Rasulullah. Suatu ketika Umar bin khattab r.a melihat Rasulullah sedang tidur di atas selembar tikar yang sudah usang dan tubuh beliau terkena bekas garir-garisnya. Umar lalu menangis, kemudian Rasululloh bertanya,”mengapa engkau menangis?” Umar berkata,

SENYUM RASULULLAH SAW

Turunnya Islam dalam kehidupan ini paling tidak memiliki dua tujuan, sebagaimana terdapat di dalam Al Quran yaitu sebagai rahmat bagi semesta alam dan untuk memperbaiki akhlak manusia melalui media dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Dan inti dari kedua tujuan tersebut pada dasarnya adalah sama, yaitu untuk memperbaiki kehidupan umat manusia di dunia dan akhirat.
“Bahwasanya aku diutus Allah swt untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad) Mengingat tujuan diturunkannya Al Islam yang begitu tinggi dan mulia, sementara Allah swt tidak akan menurunkan hidayah kepada seluruh manusia serta merta (spontan), sebagaimana telah diturunkan kepada para Nabi-Nya, maka dakwah pun memiliki peranan yang sangat besar. Dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw sepanjang hidupnya merupakan satu sejarah perjuangan yang sangat panjang dan penting. Melalui dakwah beliaulah, akhirnya Islam dengan segala ajarannya dapat diteriman oleh umat manusia, terus berkembang, dan akhirnya menjadi satu agama dengan pengikut yang terbesar di dunia. Perjuangan Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan ajaran Allah swt bukanlah sebuah perjuangan yang mudah. Sebaliknya, ia adalah perjuangan yang teramat berat yang kemungkinan besar tidak akan mampu ditempuh oleh orang-orang atau bahkan Nabi-Nabi selain beliau. Beliau harus menghadapi orang-orang yang luar biasa liciknya, orang-orang yang kejam, orang-orang yang ingin membunuhnya, dan para penguasa yang zalim, hingga kerasnya medah dakwah pun sempat menjatuhkan gigi beliau. Berbagai hinaan, cacian, makian, fitnah, sumpah serapah, dan ejekan pun harus beliau terima, hingga ludah hinaan pun sempat mendarat di wajahnya. Luar biasanya, semua itu beliau lalui dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Seolah beliau tidak merasakan beban dan perjuangan yang sangat berat tersebut. Ketika matahari tengah teriknya, Nabi Muhammad saw mendatangi kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah swt. Namun apa yang terjadi? Sebelum beliau selesai menyampaikan risalahnya, langsung saja para penduduk Thoif melempari beliau dengan batu. Nabi Muhammad saw pun berlari dengan menderita luka cukup parah. Giginya patah dan berdarah terkena lemparan batu. Malaikat Jibril pun segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad saw. Malaikat Jibril berkata, “Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi?” Andaipun Nabi Muhammad saw menyetujui tawaran Malaikat Jibril tersebut, niscaya habislah sudah kemaksiatan dan kejahatan yang ada di muka bumi ini dalam sekejap dan selesailah beban beliau. Dan andaipun Nabi Muhammad saw menyetujui tawaran Malaikat Jibril tersebut, mungkin secara logika pun itu adalah hal yang wajar. Namun tidak demikian bagi beliau, Nabi Muhammad saw kemudian menjawab: “Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku.” Luar biasa memang akhlak Nabi Muhammad saw, dalam terpaan hinaan, cacian, fitnah, sumpah serapah, dan ejekan, salah satu metode dakwah beliau yang paling mendasar dan menyentuh tidak pernah terlupakan. Kehangatan senyum senantiasa membasahi bibir beliau dalam aktivitas kehidupan dan dakwahnya. Senyum yang akan menyejukkan setiap mata yang melihatnya. Senyum yang senantiasa menggetarkan hati para sahabat dan umatnya. Senyum itulah yang selalu menghiasi menu pembuka, menu utama, dan menu penutup dalam dakwah Nabi Muhammad saw. Dari Jabir ra., ia berkata, “Sejak aku masuk Islam, Rasulullah saw tidak pernah menghindar dariku. Dan beliau tidak melihatku kecuali beliau pasti tersenyum kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim) Tidak salah memang jika Aisya ra. menggambarkan bahwa akhlak Nabi Muhammad saw adalah Al Quran. Bahkan dengan perlakuan kasar dari orang-orang yang hendak ia selamatkan dari murka Allah swt pun beliau senantiasa menunjukkan kesabaran dan keikhlasannya, dengan senyum yang senantiasa menghiasai bibirnya yang selalu terisi oleh kata-kata mulia. Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw, ia menjawab: “Akhlaknya adalah Al Quran.” (HR,.Ahmad dan Muslim) Marilah sejenak kita perhatikan kisah berikut yang menunjukkan betapa Nabi Muhammad saw tak pernah lelah atau pun enggan untuk tersenyum. Anas bin Malik bertutur:

SUCINYA PARA BIDADARI

Bidadari adalah makhluk yang teristimewa, maka tidaklah heran jika dia wanita yang sangat terjaga. Ingatkah kau zaman nenek moyang kita dahulu…tentang cerita wanita pemalu yang dipingit di dalam rumahnya, wanita yang terjaga dan menjaga dirinya? Begitulah gambaran bidadari yang hanya berada di dalam tempat kediamannya. Coba kita bayangkan dengan kondisi wanita sekarang, keadaan diriku dan dirimu…apakah kita sudah meniru akhlak wanita shalihah pendahulu kita yang hanya keluar untuk sekadar mencukupi kebutuhan mereka saja? Perhatikanlah kembali firman Allah Ta’ala dalam kitabNya, وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah dulu. dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. ” (Qs. Al-Ahzab: 33) Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha berkata,

Selasa, 01 Mei 2012

BERSIH HATI, FIKIRAN DAN DIRI

Tersadar aku, betapa waktu itu sungguh sangat terlalu berharga untuk disia-siakan apalagi dibuang. Penyesalan pun hanya datang kemudian, sehingga kini untuk melakukan sesuatu harus diperhatikan dan dipikirkan baik-baik apakah ini baik atau buruk. Dont you ever waste your time…!!! It wont come back to you…!!! Kini saatnya bersihkan hati, bersihkan lisan dan bersihkan pikiran dari hal – hal yang tidak berguna, karena hidup ini hanya satu tujuannya yakni hanya Allah SWT. “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ini terdapat segumpal darah. Apabila segumpal darah itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya. Dan apabila segumpal darah itu buruk, maka buruk pula seluruh anggota tubuhnya. Segumpal darah yang aku maksudkan adalah hati.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari)
Hati selalu didorong oleh nafsu, Iblis dan setan selalu menggangu kita dan mendorong hati agar melanggar perintah Allah SWT. Hati yang bersih, hati yang suci, akan mudah menyerap dan memantulkan kebaikan. Ia akan memancarkan cahaya seperti permata. Jika kita melihat wajah seseorang yang beriman. Wajahnya bercahaya karena terpancarnya cahaya keimanan dari hatinya. Oleh karena itu mari kita selalu membersihkan hati kita. Mengutip ceramah Aa’ Gym (KH. Abdullah Gymnastiar). Melatih diri untuk senantiasa hidup bersih lahir batin adalah suatu tuntunan yang harus dijalani. Namun langkah itu sangat bergantung pada keseriusan dan tekad diri kita sendiri. Pola hidup bersih harus berawal dari diri sendiri. Mulailah berlatih hidup bersih dari hati, lisan, sikap dan tindakan. Berusahalah agar setiap untaian kata yang keluar dari lisan kita penuh makna. Hindari kata-kata kotor, keji dan tidak senonoh. Sebab setiap kali kita bicara kotor, kesucian hati pun ternoda. Makin hidup kita bersih, kita akan semakin peka. Coba lihat cermin yang bersih! Satu titik noda menempel padanya akan cepat ketahuan. Tapi kalau cermin kotor, penuh noda dan debu, digunakan untuk melihat wajah sendiri saja susah. Makin bersih diri kita, Insya Allah kita akan lebih peka melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Bahkan kita akan lebih peka terhadap peluang amal dan juga ilmu. Sebaliknya, bagi yang kotor hati, jangankan untuk melihat kekurangan orang lain, melihat kekurangan diri saja tidak mampu. Mari berusaha membersihkan hati kita, semampu kita. Sedikit demi sedikit sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, terus dan terus menjadikannya lebih baik tentu saja dengan pertolongan Allah SWT. Setelah ada tekad yang kuat dari diri kita insyaAllah, Allah SWT pasti memberikan jalan.